Harga Komoditi Perkebunan di Tanjabbar Anjlok, Petani Inginkan Campur Tangan Pemerintah


Selasa, 31 Juli 2018 - 14:13:03 WIB - Dibaca: 1786 kali

Petani Kelapa sedang Mengupas Kelapa Hasil Panennya.(ilustrasi/net) / HALOSUMATERA.COM

KUALATUNGKAL - ‎Harga komoditi perkebunan di tingkat penampung dan tengkulak merosot. Hal ini membuat petani lesu dan kehilangan omset.

Komoditi perkebunan yang mengalami penurunan harga jual seperti Kelapa Sawit, pinang, kelapa dan kopi. 

Dari informasi yang diperoleh, untuk harga TBS mengalami penurunan sebesar 200 rupiah per kilogramnya, dari Rp 800/ kg, kini cuma dihargai Rp 600 di tingkat petani. Harga pinang, dari 10.500 /kg turun menjadi Rp 8.000. Sementara harga kopi, ‎dari 40 ribu kini menjadi 28.000/ kilogramnya. Begitu juga kelapa, per butirnya diharga Rp 800.

‎Solikin, salah seorang petani di Kecamatan Betara menyebutkan jika anjloknya harga komoditi ini menjadi pukulan telak bagi petani.

Tidak ada yang bisa dilakukan, selain pasrah dan menerima apa adanya. Petani di wilayahnya sangat berharap campur tangan pemerintah menstabilkan harga komoditi perkebunan.

"Harga jual hasil perkebunan ini tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," ungkapnya.

‎Bapak tiga anak ini menambahkan jika penurunan harga perkebunan ini berbanding terbalik dengan harga ayam dan telur yang justru mengalami kenaikan harga.

"Jangankan untuk sehari-hari, untuk menutupi biaya produksi saja kita pusing 7 keliling,"tukasnya.

‎Hal senada juga diungkapnya Yumi (66) warga Kelurahan Mekar Jaya. Meski mengaku sangat terpukul dengan anjlok harga hasil perkebunan, dirinya tetap melakukan pemanenan.

"Meski harga sangat rendah, tapi tetap harus dipanen. ‎Ya, ibaratnya seperti buah simalakama. ,"ucapnya singkat.

Endang, petani kelapa yang memiliki kebun di Seberang Kota juga mengeluhkan hal sama. Beberapa hari yang lalu dia mengaku menjual kelapa bulat yang telah dikupas sabutnya, seharga Rp 800 per butir.

"Jauh selisihnya, dulu bisa sampai Rp 2.000 an. Kalau dicongkel memang harga tinggi, tapi biaya operasionalnya besar. Hitungan sama saja, mending jual kelapa bulat," kata Endang.

Endang juga mengaku heran, harga jual komoditi pertanian di Tanjabbar sewaktu-waktu dengan mudah berubah, sementara harga yang ditetapkan pemerintah bisa lebih dari itu.

"Tolong kepada pemerintah untuk bisa membantu petani mendongkrak harga jual komoditi perkebunan," tambahnya.(*/edis)

Editor : Andri Damanik

 




Komentar Anda



Terkini Lainnya

Pesan Penting Amanat Kapolri dalam Operasi Ketupat 2026 yang Dibacakan Kapolda Jambi

JAMBI – Polda Jambi menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian terpusat “Ketupat-2026” di lapangan  Mapolda Jambi, Kamis sore (12/6/

Berita Nasional

Fitri Amalia PFI Jambi: Bijak Bermedsos, Saring Informasi Sebelum Sharing

JAMBI - Saat ini sebaran berita Hoaks menjadi perhatian bersama. Masyarakat harus bisa menahan diri dengan segala hasutan dan godaan berita yang memprovokasi. H

Opini

Pemkab Tanjabbar dan Kejari Resmi Perpanjang MoU, Fokus Penguatan Tata Kelola dan Kepastian Hukum

TANJABBAR – Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat resmi memperpanjang kerja sama strategis dengan Kejaksaan Negeri Tanjung Jabung Barat melalui penandatan

Advertorial

Pemkab Tanjab Barat Safari Ramadan di Desa Sungai Landak Kecamatan Senyerang

TANJABBAR - Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat melaksanakan kunjungan Safari Ramadhan bertepatan dengan 15 Ramadhan di Masjid Zahratussaadah, Desa Sungai

Advertorial

Bupati Tanjab Barat Anwar Sadat Sambut Safari Ramadan Universitas Jambi

TANJABBAR – Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag, menerima kunjungan Tim Safari Ramadan Universitas Jambi (UNJA) di Rumah Dinas Bupati, Juma

Advertorial


Advertisement